Restorasi ekosistem: Sebuah Permainan Tanpa Garis Akhir

Niat Baik Saja Tidak Cukup

Di ujung sebuah kampung, di atas lahan yang hampir setiap musim kemarau terbakar, sebuah proyek penanaman pohon dimulai dengan seremoni sederhana. Spanduk proyek dengan nama organisasi pelaksana tertulis jelas dibentangkan. Bibit pohon dipindahkan dari kelotok sembari disorot kamera untuk dokumentasi. Di atas kertas, proyek ini adalah bagian dari upaya pemulihan ekosistem hutan rawa gambut tropis—sebuah niat yang mulia.

Lokasi penanaman dipilih berdasarkan satu pertimbangan utama: tingkat kerusakan. Semakin luas dan semakin rusak lahannya, semakin tinggi nilai proyek yang bisa diajukan. Tidak ada waktu untuk mempelajari apakah tanah itu masih mampu menumbuhkan pohon. Tidak ada observasi apakah air tersedia, tidak kajian apakah kebakaran bisa dicegah, atau tidak perlu survey vegetasi awal. Bibit pun datang dari rekanan, apa adanya, tanpa seleksi. Proyek penanaman harus selesai segera. Laporan penanaman harus segera dikirimkan.

Ketika penanaman rampung, laporan dibuat dengan cerita yang meyakinkan, angka-angka pun disusun rapi: jumlah bibit, luasan hektare, persentase capaian. Laporan itu dikirim ke kantor pusat, lalu masuk ke statistik tahunan. Kita yang membacanya membayangkan hamparan hijau pohon tumbuh di atas lahan yang dulu hangus—ribuan pohon berdiri, burung dan binatang lain datang kembali. kehidupan hutan mulai berdenyut.

Namun fakta lapangan menyimpan cerita lain.

Beberapa bulan kemudian, tak sampai sepuluh persen pohon yang masih hidup. Sisanya mati atau tumbang sebelum sempat melewati tinggi rumput ilalang dan pakis. Ketika musim kemarau datang, kebakaran kembali menyapu. Pohon-pohon yang tersisa pun habis terbakar. Awal tahun berikutnya, organisasi yang sama kembali menulis proposal: penanaman ulang. Siklus ini berulang. Sepuluh tahun telah berlalu. Lahan itu tetap menjadi padang alang-alang. Hutan yang dijanjikan dalam laporan tak pernah benar-benar lahir. Ternyata, niat baik saja tidak cukup.

Di sisi lain bumi, sebuah cerita berbeda berlangsung—tanpa spanduk besar, tanpa narasi besar.

Kelompok tani mengelola lahan pertanian yang rusak, tak produktif, dan rawan terbakar. Tujuannya sama: memulihkan hutan. Namun caranya berbeda. Mereka tidak menanam di mana saja. Lokasi dipilih dengan hati-hati—tempat yang benar-benar bisa dijaga dari api dan tidak terendam takala banjir. Bibit dipersiapkan lebih lama, pohon ditanam disesuaikan dengan kondisi tapak. Jumlahnya sedikit. Luasnya kecil. tapi menyebar.

Setiap tahun, penanaman hanya bertambah sedikit demi sedikit. Angkanya tidak impresif. Statistiknya tidak menggoda donor atau investor. Bahkan sering kali dianggap terlalu lambat.

Tetapi alam merespons.

Petak-petak kecil itu mulai menghijau. Burung datang, bersarang, lalu pergi membawa biji. Satwa kecil muncul, lalu menghilang, lalu kembali lagi. Hutan-hutan muda yang terpisah perlahan merambat, saling menjalin. Puluhan tahun berlalu. Petak-petak kecil itu menyatu menjadi hamparan hutan gambut tropis muda—sebuah sistem hidup yang siap tumbuh menuju hutan klimaks. Sebagai bonus yang tak pernah direncanakan, para pembelajar dari berbagai penjuru dunia datang untuk melihat, belajar, dan meniru.

Perbedaan kedua cerita ini bukan soal teknik semata. Ia berakar pada niat awal, tujuan akhir, dan cara bertindak. Disini niat baik diimplementasikan dengan pengetahuan mendalam dan kerja keras.

Restorasi Ekosistem sebagai Permainan Panjang

Saya tidak bisa menjelaskan mengapa organisasi—atau manusia—memilih niat yang berbeda-beda. Namun pengalaman menunjukkan satu hal yang konsisten: jika ingin memberi manfaat besar, tahan lama, dan tetap bertahan dalam permainan, maka niat harus melampaui kepentingan sesaat. Proyek yang hanya digerakkan oleh kepentingan pribadi atau organisasi, betapapun spektakuler di awal, seringkali berumur pendek. Restorasi bukan sekedar menanam pohon namun menumbuhkan hutan kembali.

Di sinilah gagasan The Infinite Game buku yang ditulis oleh Simon Sinek menjadi relevan. Restorasi ekosistem hutan bukanlah permainan dengan garis akhir. Hutan tidak pulih dalam satu periode proyek. Ia pulih lintas generasi.

Dalam permainan yang tidak ada batas akhirnya, para pemain harus sadar bahwa mereka tidak akan pernah melihat hasil akhirnya. Karena itu, pemain sebaiknya memilih bermain dengan indah—dengan kualitas tinggi, dengan kesabaran, dan kemampuan terbaik—bukan bermain cepat demi selesai. Mereka (pemain) terus menyesuaikan diri, beradaptasi: dengan perubahan iklim yang tak terduga, temuan ilmiah baru, hingga dinamika sosial dan politik. Dalam permainan tanpa garis akhir tidak ada aturan yang abadi, kecuali niat baik dan komitmen untuk terus hadir.

Apakah pendekatan ini terbukti berhasil? Sejarah menunjukkan iya. Banyak perusahaan yang memilih bermain dalam “permainan panjang” justru bertahan puluhan tahun, bahkan menjadi rujukan dunia. Sampai sekarang banyak merk terkenal tetap hadir sementara yang lain hilang. Mereka tetap ada—karena mereka tidak pernah berniat untuk menang cepat atau mengalahkan saingan. Mereka tetap ada karena selalu ingin memberikan yang terbaik buat lingkungan dan para pengguna.

Kembali ke dua cerita penanaman pohon tadi: organisasi dalam cerita pertama mungkin akan terlupakan dalam dua atau tiga tahun. Publikasinya besar, tetapi jejaknya tipis. Cepat atau lambat, ia keluar dari permainan. Sebaliknya, kelompok tani dalam cerita kedua mungkin diragukan di awal, tetapi bertahan lama. Mereka terus berinovasi, terus belajar, dan memberi manfaat yang kian luas. Nama mereka diingat bukan karena angka, melainkan karena dampak.

Pada akhirnya, jarang sekali seseorang atau sebuah organisasi dikenang karena jumlah kemenangan sesaat. Menang dan kalah datang silih berganti. Yang diingat adalah mereka yang tetap bermain dengan utuh—mengeluarkan kemampuan terbaiknya dan meninggalkan sesuatu yang bermanfaat daripada saat mereka datang.

Pilihan itu, seperti biasa, ada pada kita.

Tabik

Taryono Darusman, 2022.

2 pemikiran pada “Restorasi ekosistem: Sebuah Permainan Tanpa Garis Akhir

  1. Menarik sekali Pak…ini hal yg real terjadi di lapangan. Cerita bagian atasnya adalah yg terjadi pada proyek “pem*ah”..dana besar tetapi hasil nihil…sedangkan cerita bagian kedua adalah praktek terbaik Yd dilakukan berdasarkan kesesuaian lahan, biaya yg dikeluarkan sebanding dgn hasil yg didapatkan.

Tinggalkan komentar