Taryono Darusman
Hutan rawa gambut tropis di Kalimantan pernah menjadi benteng utama karbon dunia dan keanekaragaman hayati. Selama ribuan tahun, kawasan ini menyerap dan menyimpan karbon pada lapisan gambut yang jenuh air. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, lanskap ini telah mengalami degradasi besar-besaran. Tulisan ini menguraikan perjalanan degradasi hutan rawa gambut secara kronologis—mulai dari pembalakan hutan, pembangunan kanal dan drainase, ekspansi perkebunan industri, fragmentasi oleh petani kecil, pertambangan, hingga peningkatan kebakaran sebagai akibat dari kerusakan bentang alam secara sistemik. Dengan menggabungkan data tutupan lahan, estimasi emisi karbon, serta dinamika frekuensi kebakaran, tulisan ini menunjukkan besarnya kerugian ekologis dan mendesak adanya restorasi hutan rawa gambut yang telah rusak secara besar-besaran pula dan berbasis ilmu pengetahuan.
Sekilas Hutan Rawa Gambut Tropis di Kalimantan
Hutan rawa gambut tropis di Kalimantan membentang hampir mencapai 6 juta hektare. Mulai dari hutan rawa gambut pantai di Kalimantan Timur dan Utara, gambut pedalaman di Kalimantan Tengah dan Barat, serta Kalimantan Selatan. Kedalaman lapisan gambut bervariasi mulai dari satu meter sampai dengan 18 meter, dengan rata-rata 5-6 meter di berbagai tempat. Dalam lapisan gambut ini tersimpan lebih dari 30 gigaton karbon—salah satu kepadatan karbon tertinggi di muka bumi. Rata-rata cadangan karbon totalnya bisa mencapai 3000–4000 ton karbon per hektar. Sistem yang secara alami jenuh air ini berfungsi menjaga keseimbangan hidrologi regional, menyerap karbon dari atmosfer, serta menjadi rumah bagi spesies langka seperti orangutan dan berbagai jenis rangkong (Posa et al., 2011).
Hutan rawa gambut tropis di Kalimantan, meskipun dalam kondisi primer atau tidak terganggu, merupakan ekosistem yang beragam. Terdapat berbagai subtipe ekosistem di dalamnya, mulai dari savana atau padang keruntum hingga hutan campuran rawa gambut. Setidaknya sampai saat ini ada enam subtype (communities) hutan rawa gambut yang telah teridentifikasi (Anderson, 1963; Darusman, 2008; Page et al., 1999)
Namun dalam beberapa dekade terakhir, aktivitas manusia secara nyata mengubah wajah lanskap ini. Rentetan gangguan dan pengrusakan yang terjadi bukanlah kejadian terpisah, melainkan proses bertahap yang saling berkaitan, yang akhirnya mengubah hutan rawa gambut dari penyerap dan penyimpan karbon menjadi sumber emisi karbon, dengan dampak iklim yang luas (Miettinen et al., 2012, 2016)
Rentetan kerusakan
Fase I (1980-an – Awal 1990-an): Pembalakan dan drainase awal
Pada tahap awal, gangguan terhadap hutan rawa gambut dimulai dengan pembalakan selektif, hanya kayu besar dan berkualitas secara komersial yang ditebang. Contohnya adalah era kayu ramin, yang menjadi salah satu periode di mana hutan rawa gambut Kalimantan mengalami gangguan hebat. Banyak operasi dilakukan secara manual atau semi-mekanis dan sering dianggap memiliki “dampak rendah”. Namun, untuk mengangkut kayu, dibangun jalan akses dan kanal kecil. Kanal ini secara bertahap menurunkan muka air tanah gambut.
Secara kasatmata jika kita melihat dari pesawat sepertinya kanopi hutan mungkin masih tampak berdiri dan rapat. Namun secara hidrologis, sistemnya mulai terganggu. Pengeringan awal ini memicu oksidasi gambut dan meningkatkan kerentanan terhadap kebakaran. Pada tahun 1990, sekitar 75% gambut Kalimantan masih berhutan, tetapi lebih dari setengahnya telah mengalami degradasi akibat pembalakan dan gangguan hidrologi (Miettinen et al., 2012). Sinar matahari yang masuk ke lantai hutan membuat gambut menjadi kering dan mudah terbakar.
Fase II (1996–2000): Proyek lahan gambut sejuta hektare dan drainase sekala besar
Perubahan terbesar terjadi saat pemerintah Indonesia meluncurkan Mega Rice Project (MRP) pada 1996. Hutan rawa gambut di Kalimantan Tengah seluas 1,4 juta hektare dikonversi dengan tujuan menjadi sawah. Ribuan kilometer kanal digali, memotong kubah gambut dan menyebabkan penurunan muka air tanah yang signifikan. Kayu-kayu diangkut dan sebagian dibakar.
Gambut berbeda dari tanah mineral biasa. Ketidakcocokan tanah dan masalah teknis menyebabkan proyek ini terbengkalai pada tahun 1999. Kerusakan pada sistem hidrologi yang ditinggalkan bersifat permanen. Saat El Niño 1997–1998 menyebabkan kekeringan ekstrem, gambut yang mengering berubah jadi sumber kebakaran besar. Kebakaran ini masuk dalam kategori “historic fire” Diperkirakan lebih dari 1 gigaton CO₂ dilepaskan hanya dalam satu musim kebakaran pada tahun 1997 ini (Miettinen et al., 2017). Sampai saat ini, lokasi eks-MRP menjadi kawasan hutan rawa gambut terdegradasi terbesar di Kalimantan Tengah.
Fase III (2000–2015): Ledakan Perkebunan dan Degradasi Struktural
Memasuki awal 2000-an, permintaan global terhadap minyak sawit dan pulp meningkat pesat. Investor mulai melakukan alih fungsi lahan gambut yang telah terdegradasi menjadi perkebunan monokultur. Drainase diterapkan secara sistematis dan luas. Awalnya perkebunan ini menggunakan lahan-lahan gambut yang sudah terdegradasi, namun makin kesini hutan rawa gambut yang masih berhutan pun kena sasaran. Hutan rawa gambut yang tersisa mulai ditebang dan dikonversi juga.
Antara 1990 dan 2008, luas perkebunan di atas gambut meningkat dari 0,3 juta hektare menjadi 2,3 juta hektare—kenaikan hampir tujuh kali lipat. Pada akhir tahun 2015, hanya tinggal kurang dari 10% hutan rawa gambut primer yang tersisa di Kalimantan Tengah, sisanya sudah terdegradasi dan beralih fungsi. Transformasi ini meningkatkan risiko kebakaran, mempercepat penurunan permukaan tanah (subsidence), dan melemahkan daya lenting alami ekosistem (Miettinen et al., 2016)
Fase IV (2015 – sekarang): Fragmentasi dan dampak kronis skala kecil
Paska 2015, sepertinya industri perkebunan mulai kehabisan lahan gambut yang cukup besar., Lahan-lahan yang tersisa diisi oleh kebun sawit rakyat dan lahan pertanian kecil. Lanskap menjadi mosaik terfragmentasi: kebun, semak terdegradasi, dan potongan hutan yang tersisa dengan sistem hidrologi yang terisolasi. Banyak sistem ini tidak memiliki pengelolaan air terpadu. Drainase kecil yang tersebar luas tetap berkontribusi pada oksidasi gambut dan emisi gas rumah kaca. Pada 2015, penggunaan lahan oleh petani kecil menyumbang sekitar 34% emisi karbon tahunan gambut di Asia Tenggara—sekitar 49 juta ton karbon per tahun. Meski tiap petak kecil, dampak kumulatifnya sangat besar
Saat ini, kurang dari 7% (atau sekitar satu juta hektar) hutan rawa gambut Kalimantan masih hutan utuh. Sisanya sudah berubah fungsi menjadi semak belukar, perkebunan skala besar dan kecil, hutan terdegradasi parah yang semuanya rentan terhadap kebakaran. Tanpa intervensi sistemik, hutan rawa gambut akan berubah permanen dari penyerap karbon menjadi sumber emisi (Austin et al., 2025)
Penutup
Perjalanan gambut Kalimantan adalah kisah tentang penghancuran bertahap yang saling terkait. Pembalakan membuka pintu. Drainase mempercepat pengeringan. Perkebunan mengokohkan konversi. Fragmentasi memperluas degradasi. Dan kebakaran menjadi puncak dari rangkaian proses tersebut. Apa yang kita pikir sebagai pembangunan (development) ternyata dari sudut pandang hutan rawa gambut adalah kerusakan (degradation). Kita semua telah banyak meminjam dari hutan; saatnya manusia mengembalikan hutang ekologis ini. Walau bermanfaat dan baik, strategi pemulihan tidak lagi cukup dilakukan pada tingkat petak. Ia harus dilakukan pada skala lanskap dengan memperhatikan sistem hidrologi kubah gambut secara utuh.

Daftar pustaka
Anderson, J. a R. (1963). The Flora of the Peat Swamp Forest of Sarawak and Brunei, including a catalogue of all recorded species of flowering plants, ferns, and fern allies. In Singapore Gardens Bulletin (Vol. 20, pp. 131–228).
Austin, K. G., Elsen, P. R., Coronado, E. N. H., DeGemmis, A., Gallego‐Sala, A. V., Harris, L., Kretser, H. E., Melton, J. R., Murdiyarso, D., Sasmito, S. D., Swails, E., Wijaya, A., Winton, R. S., & Zarin, D. (2025). Mismatch Between Global Importance of Peatlands and the Extent of Their Protection. Conservation Letters, 18(1). https://doi.org/10.1111/conl.13080
Darusman, T. (2008). Penelitian Pendahuluan Kondisi Vegetasi Hutan Gambut di Wilayah Kota Waringin Timur (DAS Mentaya) dan Katingan (DAS Katingan) Paska Tebang Pilih pada tahun 2002.
Miettinen, J., Shi, C., & Liew, S. C. (2012). Two decades of destruction in Southeast Asia’s peat swamp forests. Frontiers in Ecology and the Environment, 10(3), 124–128. https://doi.org/10.1890/100236
Miettinen, J., Shi, C., & Liew, S. C. (2016). Land cover distribution in the peatlands of Peninsular Malaysia, Sumatra and Borneo in 2015 with changes since 1990. Global Ecology and Conservation, 6, 67–78. https://doi.org/10.1016/j.gecco.2016.02.004
Miettinen, J., Shi, C., & Liew, S. C. (2017). Fire Distribution in Peninsular Malaysia, Sumatra and Borneo in 2015 with Special Emphasis on Peatland Fires. Environmental Management, 60(4), 747–757. https://doi.org/10.1007/s00267-017-0911-7
Page, S. E., Rieley, J. O., Shotyk, W., & Weiss, D. (1999). Interdependence of peat and vegetation in a tropical peat swamp forest. Philosophical Transactions of the Royal Society B: Biological Sciences, 354(1391), 1885–1887. https://doi.org/10.1098/rstb.1999.0529
Posa, M. R. C., Wijedasa, L. S., & Corlett, R. T. (2011). Biodiversity and conservation of tropical peat swamp forests. BioScience, 61(1), 49–57. https://doi.org/10.1525/bio.2011.61.1.10