Menyusuri Punggung Tanah Leluhur Kaili Da’a: Jalur Trekking Bulu Wanja

Pagi yang tenang dan cerah menyambut langkah kami di titik awal jalur trekking, Desa Dombu. Kabut pegunungan memeluk pagi dengan lembut, mewarnai langit dengan nuansa abu-abu keemasan. Suhu 11 derajat Celsius tercatat di jam pintar kami saat itu, dingin namun menyegarkan. Kota Sigi dan Kota Palu terhampar di bawah, masih terlelap dalam dinginnya udara pagi, terbungkus dalam selimut kabut yang bergulung-gulung. Dari titik ini, kami bisa melihat Gunung Nokilalaki dengan jelas.

Setelah beberapa saat melakukan perjalanan trekking, langkah kaki kami memasuki lereng punggungan yang berada di atas Desa Lewara, menyajikan pemandangan yang sangat memukau. Lembah indah terbentang seperti lautan hijau yang senyap dihiasi kerlip atap-atap rumah di kejauhan dan pantulan sinar matahari dari air sungai yang berkelok-kelok. Langkah demi langkah melintasi dusun-dusun di Desa Lewara terasa seperti meditasi dalam gerakan. Setiap langkah membawa pada pandangan baru, seiring dengan tarikan nafas yang mendalam. Hamparan alam yang seperti mozaik, dipenuhi oleh tanaman-tanaman khas masyarakat Kaili Da’a, mulai dari jagung, kopi, hingga coklat. Desiran pepohonan serta siluet pohon-pohon memenuhi panorama, mengikuti alur alami tanah leluhur Kaili Da’a. Di seberang kami, Gunung Gawalise yang sakral berdiri teguh, seolah menyaksikan dan melindungi keindahan dan keseimbangan alam dari segala gangguan.

Sepanjang perjalanan, kami berjumpa dengan masyarakat Kaili Da’a yang hendak pergi ke kebun. Mereka menyambut kami dengan ramah, menyapa dan berbincang. Di kilometer 4-5 sejak meninggalkan Dusun Lewara 4, kami berbelok kiri mengikuti jalan setapak menuju Dusun 1 Wanja, Desa Soi. Di pertengahan ini, kami melintas Bulu Wanja, titik tertinggi perjalan ini, membuka pandangan luas yang menakjubkan. Laut berkilau di kejauhan, dikelilingi oleh perbukitan hijau dan langit yang begitu dekat. Ini bukan sekadar indah — tapi membuat kita merasa kecil, penuh Syukur kepada Sang Pencipta. Waktu menunjukkan hampir pukul 9 wita saat kami turun menuju Dusun Wanja. Di sana, kami singgah di Kedai Kopi yang menawarkan Kopi Lokal Arabika, Kopi Sigi, terpampang jelas di kemasannya. Perjalanan trekking takkan lengkap tanpa mampir di kedai kopi.

Selain pemandangan dari teras Kedai Kopi yang cantik menghadap Kota Palu dan Sigi. Rasanya kopinya luar biasa. Kopi tanpa gula dengan aroma asap, penuh dengan semangat kehidupan pegunungan yang tangguh. Setiap tegukan mengandung cerita tentang tanah, hutan, tangan leluhur, dan bisikan angin di atas Wanja. Tambahkan kretek herbal yang memanjakan pikiran dan membawa kita merenung tentang kehidupan tradisional masyarakat Kaili Da’a. Di kedai, kami berbincang-bincang dengan beberapa masyarakat. Tawa, kehangatan, dan koneksi baru yang sulit dijelaskan tercipta di tempat itu. Tempat ini bukan hanya untuk istirahat, tapi juga adalah titik pertemuan budaya, momen-momen kemanusiaan yang hanya terjadi jika kita berada di atas awan.

Jika ada kesempatan, ingin sekali kami ke sana lagi, tentu dengan waktu yang lebih panjang sehingga bisa menginap di rumah tradisional (Lante) masyarakat Kaili Da’a.

Tabek,

20 April 2025

Satu pemikiran pada “Menyusuri Punggung Tanah Leluhur Kaili Da’a: Jalur Trekking Bulu Wanja

Tinggalkan komentar