Kehendak Bebas Manusia dalam Ruang Takdir: Ingin Dikenang Sebagai Apa?

Beberapa waktu lalu, saat sedang termenung menunggu sahur, saya teringat sebuah kalimat yang pernah disampaikan seorang teman lama. Masih jelas terbayang nada bicaranya saat dia menyampaikan:

“Kita tidak bisa memilih di mana kita dilahirkan, tapi kita bisa memilih untuk menjadi siapa.”

Saya sungguh terkesan dengan ucapan ini. Bukan karena keindahan bahasanya, tapi karena kedalaman maknanya. Ucapan ini walau disampaikan sekilas namun mengetuk kesadaran saya. Saya mulai bertanya-tanya ke dalam diri sendiri, bagaimana saya bisa seperti sekarang ini?. Kenapa saya ada dalam situasi sekarang ini?. Bagaimana sebenarnya selama ini saya bersikap dan berbuat dalam hidup ini? Apakah sikap dan perbuatan saya bermakna bagi orang lain? Atau justru mengganggu?. Lebih jauh lagi adalah muncul pemikiran “Jika suatu hari saya pergi, saya ingin dikenang sebagai apa oleh orang orang sekitar kita?”

Saya percaya bahwa hidup ini adalah tentang pilihan. Pilihan kita dalam bersikap dan berbuat. Kita diberi  kehendak bebas—kemampuan untuk membuat keputusan, menentukan sikap, dan memilih reaksi atas berbagai situasi yang ada. Kita bisa memilih untuk jujur atau menyembunyikan kebenaran, bersikap terbuka atau menutup diri, peduli atau tidak peduli, berbuat baik atau tidak baik, memilih rajin atau malas, marah marah atau bersabar, menjemput atau hanya diam menunggu. Pilihan-pilihan kecil ini, yang tampak sepele, perlahan membentuk kenangan atau ingatan orang lain terhadap kita. Kehendak bebas (kebebasan) ini memberi ruang bagi kita untuk membentuk sebagai siapa kita ingin dikenang setelah pergi.

Sering kali kita berkata, “Saya hanya ingin dikenang sebagai  diri  saya sendiri.” Tapi pertanyaannya: apakah kita tahu diri sendiri seperti apa yang ingin kita bangun?. diri sendiri selalu mementingkan diri sendiri, atau diri sendiri yang selalu ramah dan siap menolong, atau diri sendiri yang bagaimana?. Atau kadang kita berkata “saya mengalir saja”. Mengalir kemana? ke arah yang baik atau yang tidak baik?. Apakah jika arus mengajak kita ke arah yang salah, apakah kita akan mengalir juga ke arah yang salah?. Disini kehendak bebas kita diuji. Ingin menjadi diri sendiri pun butuh kesadaran untuk membuat pilihan.

Walau kita diberi kehendak bebas untuk membuat pilihan, namun ternyata tak semua hal dalam hidup bisa kita pilih. Ada ruang-ruang kehidupan yang hadir begitu saja di luar kendali kita. Contohnya adalah kita tidak bisa memilih dari keluarga mana kita lahir, kaya atau biasa saja, dari daerah mana kita berasal, bangsa apa, suku apa?, atau dalam lingkungan seperti apa kita dibesarkan. Bahkan hal remeh seperti pertumbuhan kuku dan rambut pun bukan atas perintah kita. Di titik ini, kita berhadapan dengan apa yang bisa saya sebutkan sebagai takdir—sebuah ruang kehidupan yang sudah ada atau sudah diberikan kepada kita tanpa kita bisa menolak.

Pada titik ini saya menyadari bahwa kenangan orang lain terhadap kita, bukan karena jabatan atau status, tetapi lebih karena pilihan sikap dan perbuatan selama menjabat atau berada pada status tersebut. 

Saya percaya seseorang dikenang bukan karena jabatannya, tapi karena sikap dan perbuatanya. Bukan jabatan menterinya yang diingat, tapi sikap dan perbuatanya sebagai menteri yang akan dikenang orang. Bukan profesi dokternya yang membekas, tapi sikap dan perbuatanya sebagai seorang dokter yang akan dikenang orang. Bukan peran sebagai orang tua yang dikenang, tapi bagaimana ia memperlakukan anak-anaknya yang akan terus diingat oleh anak anaknya.

Ternyata kehendak bebas kita ada batasnya. Ia dibatasi oleh ruang, waktu, dan situasi kondisi yang diberikan kepada kita. Kita tak bisa mengatur ruang takdir tempat kita dilahirkan atau oleh siapa kita dilahirkan tapi kita bisa bebas memilih ingin seperti apa kenangan yang ditumbuhkan. 

Tabek.

Malam 1 Syawal 1446, Jogjakarta.

Tinggalkan komentar