Taryono Darusman
Ketika saya membaca dokumen deskripsi proyek yang menjanjikan jutaan kredit karbon dari sebuah hutan terdegradasi yang hampir tidak mengalami perubahan selama 10 tahun terakhir, muncul rasa tidak nyaman dan rasa penasaran. Bukan rasa penolakan, melainkan rasa keprihatinan. Dalam dokumen proyek, semuanya tampak tersusun rapi dan masuk akal: proyeksi laju deforestasi yang penuh keyakinan, kurva baseline yang menjanjikan, dan proyeksi pendapatan yang menarik tersusun rapi dalam kolom-kolom spreadsheet. Lembar kerjanya hampir sempurna. Akan tetapi, bagaimana dengan kondisi hutannya?
Pasar kredit karbon sukarela menawarkan harapan bahwa pelestarian alam akhirnya dapat bersaing secara ekonomi dengan penebangan pohon. Pohon yang tetap berdiri bisa memiliki nilai lebih tinggi daripada yang tumbang. Saat ini proyek karbon berbasis alam tumbuh dengan cepat. Mungkin terlalu cepat, lebih cepat dari pertumbuhan hutannya sendiri. Dokumen deskripsi proyek bermunculan dengan nilai kredit karbon yang mengesankan. Model keuangan mengindikasikan pengembalian cepat bagi investor. Proyek karbon hutan perlahan bergeser: bukan lagi proses ekologis jangka panjang, namun sepertinya sudah menjadi instrumen finansial jangka pendek.
Di sini mulai timbul kegalauan
Hutan tidak tumbuh mengikuti ritme kuartalan laporan keuangan. Gambut tidak kembali basah mengikuti jadwal presentasi pengembang proyek. Masyarakat tidak otomatis mengubah mata pencaharian hanya karena proyek menjanjikan kredit karbon yang tinggi.
Sepertinya, karbon di sini bukan lagi isu kehutanan, melainkan isu ekonomi dan keuangan. Investor menginginkan kepastian. Pengembang menginginkan proyek yang “bankable”. Konsultan, acapkali diminta untuk “mengoptimalkan” kredit karbon dengan mengutak-atik baseline, memilih wilayah referensi yang mendukung asumsi risiko deforestasi hutan yang lebih tinggi, atau membangun skenario tandingan (counterfactual) yang secara metodologis sah, namun secara ekologis meragukan. Setiap asumsi, berdiri sendiri, mungkin lolos validasi dan verifikasi. Namun, ketika disatukan, ia bisa diam-diam membesar-besarkan masa depan yang mungkin tidak pernah terjadi di alam nyata.
Beberapa metodologi akuntansi karbon sepertinya sudah mulai melihat kegalauan ini, namun belum cukup cepat menangkap fenomena percepatan kredit karbon saat ini.
Kerangka metodologi penghitungan kredit karbon dari REDD, pembasahan rawa gambut, dan konservasi wilayah mangrove pada dasarnya dibangun di atas prinsip kehati-hatian, pengelolaan ketidakpastian, dan rentang waktu yang panjang. Ia berangkat dari asumsi bahwa hutan tidak bisa dikontrol sepenuhnya, bahwa risiko akan muncul, dan bahwa dinamika sosial akan berubah. Buffer pool, sebagai refleksi dari risiko, ada karena pelepasan karbon kembali (carbon reversal) hampir pasti terjadi. Kebakaran di Gambut, contohnya. Apakah ada jaminan bahwa kebakaran di gambut terdegradasi tidak akan terjadi tanpa adanya mitigasi?
Ketika tekanan finansial semakin mendesak, disiplin mulai melemah, tidak melalui pelanggaran terang-terangan, melainkan lewat perubahan pola dan gaya. Dokumen proyek terasa lebih seperti prospektus investasi daripada rencana pengelolaan. Manfaat untuk masyarakat sering digambarkan sebagai janji masa depan, bukan kenyataan saat ini. Risiko kebocoran diakui, tetapi segera diperkecil. Perlunya keberlanjutan proyek dibahas, tetapi lebih sebagai syarat administrasi daripada tantangan yang harus diatasi setiap tahun.
Sekali lagi, hutan menjadi latar belakang. Dilihat sebagai komoditas. Alat bukan tujuan.
Yang paling mengkhawatirkan adalah bahwa pembesaran klaim sering kali justru merusak gagasan dan niat awal, yakni mitigasi perubahan iklim dan pencegahan kerusakan hutan. Ketika kredit karbon memenuhi pasar tanpa adanya perubahan ekologis yang sepadan, harganya pun menurun. Pembeli menjadi ragu. Jurnalis investigasi mulai mengajukan pertanyaan tajam. Proyek-proyek yang benar-benar berkomitmen, berinvestasi untuk mencapai dampak nyata di tapak, dan mengeluarkan kredit karbon secara hati-hati, akhirnya terkena dampak juga oleh proyek oportunistik ini. Kepercayaan pun terkikis, mungkin lebih cepat daripada proses oksidasi gambut di lapangan. Dan saat kepercayaan hilang, tidak ada metodologi yang mampu memulihkannya.
Kita tahu bahwa di hutan atau alam tidak ada yang bergerak dalam garis lurus dan sepertinya niat manusia pun demikian. Bisa belok. Di sini, niat baik saja tidak cukup.
Namun,
Ada proyek kredit karbon yang baik dan direncanakan untuk jangka panjang, menerbitkan kredit secara konservatif, dengan investasi lebih besar pada perlindungan dan restorasi hutan daripada pemasaran. Proyek ini tetap bertahan saat pasar melemah. Masyarakat tetap terlibat karena janji sederhana yang ditepati. Hutannya mengalami perubahan nyata, bukan sekadar statistik.
Proyek ini memahami bahwa karbon bukan sekadar produk. Karbon digunakan sebagai simbol untuk menggambarkan transformasi yang lebih mendalam—perubahan dalam penggunaan lahan, tata kelola, dan mungkin cara berpikir kita tentang sistem ekonomi yang ada. Namun, ketika kita memperlakukan kredit karbon sebagai aset jangka pendek, hubungan tersebut menjadi terbalik. Kita meminta alam memenuhi kebutuhan kita, alih-alih menjaga hutan dan melayani alam. Hasilnya mungkin tampak sukses selama beberapa tahun, tetapi risiko jangka panjang akan muncul. Alam akan menagih janjinya.
Kredibilitas proyek karbon berbasis alam tidak ditentukan oleh jumlah kredit karbon yang kita hasilkan, tetapi oleh jumlah hutan yang tetap berdiri saat proyek selesai. Selain itu, penting apakah masyarakat masih ada, tetap terlibat, dan merasakan manfaatnya.
Tabik