Saya pertama kali membaca dengan istilah circle of safety saat membaca buku Leaders Eat Last karya Simon Sinek. Istilahnya terdengar sederhana dan mungkin abstrak. Tetapi maknanya baru bisa dipahami ketika saya membayangkannya dalam satu situasi yang sangat nyata: medan pertempuran.
Di medan seperti itu rekan kerja kita di lapangan yang berdiri paling dekat. Mereka ada di sisi kita, di depan kita, dan di belakang kita. Mereka yang bersama kita di lapangan, dalam panas, lelah, risiko, dan ketidakpastian. Ketika kita berada jauh di tengah hutan, di pos terpencil, jauh dari kantor pusat dan keluarga, maka yang ada hanya rekan kerja.
Dalam kondisi seperti itu, tidak ada pilihan lain selain saling menjaga.
Cerita-cerita pertempuran sering menggambarkan prajurit yang berteriak memberi peringatan saat tembakan terdengar, mengingatkan untuk merunduk, untuk berlindung, untuk bergerak dengan benar. Ada yang berhenti berlari demi menarik rekannya yang jatuh. Ada yang memanggul rekan terluka puluhan kilometer, menolak meninggalkannya. Semua itu bukan soal keberanian individual, melainkan tentang satu keyakinan bersama: harus saling menjaga agar rekanya, kameradnya, tetap hidup.
Di situlah circle of safety bekerja.
Circle of Safety bukan lingkaran terbuat dari tembok. Ia tak kasat mata, tetapi terasa. Ia terbentuk ketika setiap orang tahu bahwa orang di sekitarnya akan menjaga, dan bahwa pemimpinnya tidak akan mengorbankan mereka demi kepentingan lain. Seorang pemimpin yang bertanggung jawab adalah pemimpin yang memastikan lingkaran ini hidup—bukan hanya sebagai slogan, tetapi sebagai praktik sehari-hari.
Peran pemimpin dalam circle of safety adalah memastikan bahwa mereka yang bekerja di lapangan benar-benar terlindungi. Bukan hanya dengan alat dan prosedur, tetapi dengan keberpihakan yang jelas. Sebaliknya, mereka yang berada di lapangan pun percaya bahwa rekan-rekan mereka di markas—di ruang rapat, ruang kontrol, dan balik layar—sedang bekerja sebaik mungkin untuk melindungi mereka. Ada kepercayaan dua arah yang saling menguatkan.
Menurut Sinek, rasa aman inilah yang membuat organisasi mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang. Circle of safety bukan produk kebijakan instan, melainkan hasil dari budaya kepemimpinan yang menempatkan manusia di atas angka, relasi di atas target, dan kepercayaan di atas ketakutan.
Ia adalah lingkaran tameng baja yang dibangun perlahan: ketika pemimpin turun tangan saat anggota tim kesulitan, ketika ia berdiri di depan saat ancaman datang, ketika ia memilih melindungi timnya meski itu berarti menanggung risiko pribadi. Di dunia kerja lapangan mungkin mirip dengan medan pertempuran yang penuh bahaya dan ketidakpastian, kepemimpinan semacam inilah yang paling kita rindukan—kepemimpinan yang mendahulukan anggota tim, sebelum dirinya sendiri.
Dan mungkin, di sanalah letak kekuatan sejati sebuah organisasi: bukan pada seberapa tinggi ia menjabat, melainkan pada seberapa aman orang-orang di dalamnya merasa untuk saling menjaga.
Tabek, April 2023.
Taryono Darusman