Sanggupkah Hutan Karet dan Hutan Sago menahan serbuan Sawit?

Bukan lagi sebuah cerita kosong bahwa 10 tahun belakangan ini perkebunan sawit semakin meluas. Setelah Jawa dan Sumatera yang sudah jenuh dengan Sawit, sekarang perusahaan perkebunan sawit mulai melirik Kalimantan dan Papua, The Last Frontier. Mereka, merangsek ke segala penjuru, tidak saja hanya lahan yang sudah rusak (terdegradasi) atau tidak produktif, namun mereka juga menggasak lahan-lahan milik warga atau komunitas lokal yang produktif seperti karet dan sago (Papua dan Indonesia Timur). Juga, mereka mulai menyerbu hutan-hutan primer dan lahan gambut dalam yang nota bene dilarang oleh peraturan presiden tentang Moratorium Ijin.

Over twenty years old rubber tree. Photo by Ophelia Wang

Over twenty years old rubber tree. Photo by Ophelia Wang

Marginal rubber garden in the midlle of Oilpalm plantation. photo by Taryono

Marginal rubber garden in the middle of Oil palm plantation. photo by Taryono

Di Pulau Kalimantan, ratusan hektar bahkan mungkin ribuan hektar kebun karet mulai lepas dan berpindah tangan ke perusahaan sawit. Para makelar mereka di lapangan menggunakan jurus yang ampuh untuk merayu para pemilik kebun karet ini, yaitu biaya sekolah, biaya kesehatan dan membayar hutang. Kondisi ini diperparah dengan menurunya harga karet secara tajam. Jika tidak ingin habis, perlu bantuan pemerintah untuk proteksi hal ini, juga harga karet perlu distabilkan atau ditahan agar jangan terjun bebas.  komunitas-komunitas kecil pemilik kebun karet yang ingin mempertahankan kebun karetnya, perlu merapatkan barisan. Membuat kelompok arisan, membuat koperasi untuk mengembangkan pemasaran dan peningkatan kualitas serta tindak kolektif lainnya.

Sago Forest in Mimika District, as source of carbohydrate and energy for local people. Photo by Taryono

Sago Forest in Mimika District, as source of carbohydrate and energy for local people. Photo by Taryono

Begitu pula di Papua, konversi Hutan Sago masyarakat adat menjadi perkebunan sawit bukanlah pilihan yang bijaksana. Hutan Sago tidak saja sebagai sumber karbonhidrat dan energi komunitas adat pesisir Papua, namun sebagai indentitas sosial budaya mereka. Mengkonversi Hutan Sago di Papua tidak saja merubah pola kosumsi mereka, namun akan lebih jauh dari itu. Kemungkinan akan ada perubahan-perubahan yang lebih mendasar, seperti adat istiadat dan budaya keseharian mereka.

Memang Sawit saat ini menjadi primadona bagi peningkatan ekonomi di sektor non-migas, namun marilah berpikir dan bertindak untuk juga tidak mengorbankan kepentingan komunitas-komunitas lokal yang telah hidup disana sebelumnya dan kehidupan yang lebih jangka panjang.

Salam

Tinggalkan Balasan