Restorasi Ekosistem, apa itu ?

Pohon Galam yang tumbuh secara natural dengan pola alamiahnya.

Pohon Galam yang tumbuh secara natural dengan pola alamiahnya.

Banyak orang yang merasa paham dengan restorasi ekologis atau restorasi ekosistem, namun faktanya banyak yang hanya kenal lewat buku dan gambar. Untuk memahami restorasi ekosistem atau ecological restoration, perlu keseriusan dan ketelatenan yang luar biasa dalam rentang waktu yang cukup panjang untuk bergumul secara langsung di lapangan. Tidak bisa hanya dari membaca buku atau melalui seminar-seminar saja. Di lapangan pun perlu waktu yang cukup panjang untuk hanya sekedar mulai memahami bagaimana kita bisa mencontoh alam dalam memulihkan diri sendiri. Pada prinsipnya, restorasi ekosistem atau ecological restoration adalah membantu alam untuk memulihkan diri nya sendiri (silahkan baca dalam buku ecological restoration). Artinya restorasi ekosistem bukan mengambil alih proses pemulihan ekosistem yang sedang berlangsung.

Bergumul di lapangan bukanlah dalam artian melakukan intervensi terhadap proses pemulihan ekosistem namun lebih banyak mengamati, memahami, dan menghargai bahwa alam dapat melakukan pemulihan secara alamiah. Semakin sedikit kita ikut campur, semakin alamiah alam melakukan pemulihan untuk mencapai keadaan sehat dan memiliki kelenturan terhadap gangguan berikutnya.  yang penting dalam melakukan restorasi ekosistem mungkin adalah hanya menjaga agar penyebaran, pertumbuhan dan pergantian spesies dapat berjalan secara alami. Banyak sekali cara dan tehnik untuk membantu alam atau hutan memulihkan diri sendiri tanpa ada intervensi berlebihan dari kita. Mengenai pendekatan, metode, dan tehnik bagaimana kita membantu alam atau hutan melakukan pemulihan ini dapat dilihat pada banyak sumber seperti dalam antara lain:

  1. https://www.ser.org/
  2. https://www.decadeonrestoration.org/
  3. https://www.forestlandscaperestoration.org/

Dari sumber sumber di atas banyak sekali pengetahuan mengenai aktivitas restorasi ekosistem, namun yang perlu diingat bahwa kita perlu menyesuaikan dengan konteks dimana kita bekerja. Oleh karena itu, memahami kondisi lapangan dengan cara menggumulinya (melihat, membaca, dan menganalisa) menjadi pra-syarat yang penting.

Tabik,

Taryono Darusman

Tinggalkan Balasan