Ukuran Produktivitas Pada Bisnis Restorasi Hutan

Produktivitas didefinisikan sebagai kemampuan sebuah sistem atau orang untuk menghasilkan produk atau jasa secara efisien, efektif, dan berkualitas (Katadata). Dalam bisnis konvensional, Produktivitas setara dengan jumlah produk atau layanan yang diberikan per unit kerja atau usaha. Misal si Pulan dapat menanam pohon sebanyak 100 batang per hari, sementara si Malin dapat menanam pohon 60 batang per hari. Artinya si Pulan memiliki produktivitas per hari kerja lebih tinggi (100 pohon/hari) dibandingkan dengan si Malin (60 pohon/hari). Kedua-duanya dapat dikatakan produktif namun dengan tingkat produktivitas yang berbeda. Contoh lain dalam kerja kelompok adalah misal kelompok A berhasil membuat jalur sekat bakar sepanjang 1000 meter per hari, sementara kelompok B dapat mendapatkan 700 meter per hari. Maka, kelompok A memiliki produktivitas lebih baik dibandingkan dengan kelompok B (1000 meter dibandingkan dengan 700 meter dalam satu hari kerja). Kelompok A dan B sama sama produktif namun dengan tingkat produktivitas berbeda. Kedua contoh di atas adalah contoh produktivitas dari hasil kerja yang terlihat nyata sehingga relatif mudah diukur dan dibandingkan. Namun, bagaimana jika produk atau jasa yang ingin dicapai adalah sesuatu yang sulit diukur secara langsung dan lebih kompleks?. Misal berapa oksigen yang telah diserap oleh pepohonan, berapa pengurangan luasan lahan yang terbakar, berapa luas hutan yang berhasil kembali pulih (restored), atau misal berapa gas karbondioksida (CO2) yang berhasil dicegah lepas ke atmosfir?. Menghitung produktivitas dengan capaian tersebut relatif lebih sulit dan mungkin harus dicapai dengan kombinasi beberapa aktivitas.

Tujuan yang umum restorasi ekosistem, misal pulihnya ekosistem hutan atau terhindarnya deforestasi dan degradasi hutan tentu bisa dicapai dari kombinasi kelompok aktivitas lapangan (misal kelompok aktivitas perlindungan hutan, kelompok aktivitas pemberdayaan masyarakat, dan kelompok aktivitas restorasi ekosistem). Semua kelompok aktivitas ini saling terkait dan tergantung satu dan lainnya. Jumlah dan ragam aktivitas akan tergantung kepada konteks lokasi bisnis restorasi ekosistem tersebut berada. Persoalan nya adalah menentukan aktivitas-aktivitas mana yang paling efektif, kemudian efisien, dan dapat dimonitor dengan baik sehingga hasilnya berkualitas. Seorang manajer yang bertanggung jawab tentu mengharapkan tingkat produktivitas unggul (dalam arti: efisien, efektif, berkualitas baik). Untuk itu, Sang Manajer dituntut untuk berpikir aktivitas apa yang paling efektif, bagaimana aktivitas-aktivitas tersebut dijalankan secara efisien, dan sistem kontrol apa yang perlu dibangun agar hasilnya berkualitas. Dalam buku “essentialism: the diciplined pursuit of less” Greg Mckeown menuliskan bahwa terkadang kita (misal manajer) terjebak dengan kegiatan yang terlalu banyak namun tak bermakna atau sering terjebak oleh agenda agenda orang lain yang tidak relevan atau kurang penting dengan tujuan organisasi (dalam hal ini misal restorasi ekosistem). Bahkan kita tampak terlihat sibuk namun ternyata tidak produktif. Tidak menghasilkan sesuatu apa pun. Alih alih berkontribusi terhadap aktivitas restorasi, malah terkadang kontra-produktif. Mckeown ingin menunjukan kepada pembaca bagaimana kita dapat memilih aktivitas yang paling esensial baik dalam dunia kerja maupun dalam hidup keseharian kita. Buku memberikan tips membangun sistem atau kriteria agar pembaca dapat menentukan aktivitas mana yang paling esensial untuk mencapai tujuannya. Sehingga setiap aktivitas dapat dikerjakan dengan sumber daya yang cukup (perhatian, tenaga, dan pikiran) dan hasilnya berkualitas. Terlalu banyak aktivitas, apalagi redundant belum tentu menjamin tujuan dapat tercapai, malah kita bisa letih sendiri. Dalam buku “Good to Great” atau “bagus ke hebat” yang ditulis oleh Jim Collins, sebuah organisasi agar menjadi hebat (tidak berhenti di bagus saja) adalah dengan selalu melakukan refleksi dengan membuat daftar aktivitas yang harus dihentikan/dipangkas. Sehingga aktivitas benar benar fokus kepada tujuan dan tidak ada aktivitas berujung menjadi sampah atau malah menjadi beban dikemudian hari.

Dalam dalam konteks restorasi eksositem hutan (ecological restoration), cara terbaik merestorasi adalah dengan pemulihan diri sendiri agar proses reversible jika ada gangguan alami. Dalam buku “Ecological Restoration” karya Clewel dan Aronson, restorasi ekosistem adalah aktivitas-aktivitas bantuan yang dilakukan oleh manusia kepada ekosistem hutan yang sedang dalam proses pemulihan. Pemulihan ekositem hutan dari dalam merupakan rekaman proses pemulihan hutan yang akan berguna untuk membangun daya lenting (resiliency) dari ekosistem hutan itu sendiri. Artınya intervensi manusia adalah hanya bantuan dalam proses pemulihan hutan. Layaknya sebuah bantuan, maka sedapat mungkin dibatasi pada yang paling penting (esensial). Misal melakukan pencegahan terhadap gangguan (drivers) yang menghambat proses penyembuhan alami, misal pencegahan kebakaran hutan dan penebangan pohon yang tidak terkontrol. Jikalau perlu penanaman, dalam konteks restorasi ekosistem penanaman dapat dilakukan dengan cara terbatas namun berkualitas, yang bertujuan untuk merangsang atau mengkatalis agar ekosistem hutan pulih dengan sendirinya. Penanaman secara masif pada lahan non-hutan mungkin bisa tidak diperlukan.  Atau, membuat banyak kegiatan ekonomi warga yang tidak relevan dengan kegiatan restorasi ekosistem itu sendiri mungkin belum diperlukan.

Kembali ke tema awal mengenai produktif dań produktivitas dalam bisnis restorasi ekosistem, jelas bahwa ukurannya bukan pada jumlah atau volume aktivitas. Ukuran produktivitas hanya pada volume aktivitas saja lebih cocok untuk bisnis ekstraktif, misal 100 pohon ditebang dan 50 kubik papan dihasilkan, dimana hasil akhir sangat dekat dengan aktivitas nya. Namun pada bisnis restorasi hutan, jumlah dan volume aktivitas hanya akan menunjukan sumber daya yang telah dihabiskan untuk aktivitas tersebut, tapi belum menunjukan hasil akhirnya. Misal jika tujuan adalah pemulihan hutan, tentu aktivitas penanaman pohon hanya awal saja. Hasil akhir yang ingin dicapai masih jauh dan panjang.  Contoh lain, jika tujuan nya adalah tidak adanya degradasi hutan, maka kegiatan memberikan modal awal kepada para pembalak liar untuk berganti mata pencaharian baru hanya tahap awal saja. Sehingga alih alih produktivitas hanya ditunjukan dengan jumlah bibit di tanam, luasan lahan yang telah ditanam, atau jumlah warga diberi bantuan, maka dalam restorasi ekosistem produktivitas mungkin bisa dinyatakan dalam penambahan luasan kawasan hutan, jumlah luasan kebakaran lahan (semakin berkurang, produktivitas semakin baik), penambahan satwa liar, jumlah pengetahuan yang diperoleh, bertambahnya jumlah petani yang melakukan praktek organic farming, dan seterusnya. Jika kita mulai berpikir ke arah ukuran produktivitas seperti di atas, kita bisa mulai berpindah dări manajer yang “rajin” menjadi manajer yang bertanggung jawab (responsible leadership). Dari berorientasi aktivitas berubah menjadi berorientasi ke tujuan dengan menjalankan proses yang benar.

Tabek, Taryono Darusman  

Reference:

https://katadata.co.id/agung/ekonopedia/62bbd32579d76/memahami-produktivitas-pengertian-dan-unsur-pembentuknya

https://www.amazon.com/Essentialism-Greg-McKeown-audiobook/dp/B00IWYP5NI/ref=sr_1_1?crid=2RQSOKCQRDYKW&keywords=essentialism+by+greg+mckeown&qid=1681022821&s=books&sprefix=essentialism+by+greg+mckeown%2Cstripbooks-intl-ship%2C292&sr=1-1

https://link.springer.com/book/10.5822/978-1-59726-323-8

https://www.researchgate.net/publication/316834207_PENGARUH_GAYA_BERPIKIR_INTEGRITAS_DAN_USIA_PADA_PERILAKU_KERJA_YANG_KONTRAPRODUKTIF

Satu pemikiran pada “Ukuran Produktivitas Pada Bisnis Restorasi Hutan”

  1. Ping balik: Restorasi ekosistem: Sebuah Permainan Tanpa Garis Akhir | 3003

Tinggalkan Balasan